Tak Perlu Panik ketika Anak Demam

Tak Perlu Panik ketika Anak Demam

JANGAN gegabah ketika anak tiba-tiba mengalami demam atau panas tinggi. Bisa jadi kejadian tersebut hanyalah respons normal yang berguna untuk membantu tubuh melawan infeksi yang menyerang, dan umumnya hal itu tidak membahayakan.

Siapa yang tidak panik dan khawatir saat mendapati si buah hati, terlebih masih balita, terkena panas atau demam tinggi. Anda biasanya langsung membawanya ke dokter terdekat untuk ditangani. Namun, jangan terlampau cemas. Patut diketahui bahwa pada usia 0-12 bulan, daya tahan tubuh anak memang masih rendah sehingga rentan sekali terkena infeksi penyebab demam.

“Anak atau cucu kena panas biasanya membuat orang tua atau neneknya ikut kebingungan. Dan, merupakan keluhan paling sering membuat orang tua langsung berobat ke rumah sakit,” kata Dr Mulya Rahma Karyanti SpA (K) dari Divisi Infeksi Departemen Ilmu Penyakit Anak FKUI/RSCM, Jakarta.

Tingginya suhu tubuh juga tak dapat dijadikan indikasi bahwa penyakit yang diderita anak semakin parah. Sebab, pada saat itu tubuhnya sedang berusaha melakukan perlawanan terhadap penyakit akibat infeksi tersebut. Penyebab demam, ada berbagai macam, di antaranya infeksi virus, bakteri, toksin, reaksi kekebalan tubuh, alergi, penyebab metabolik, dan tumor. Definisi demam adalah naiknya suhu tubuh dari suhu normal, yaitu 36 – 37,5 derajat Celsius. Demam merupakan mekanisme pertahanan tubuh anak terhadap serangan bakteri dan virus. Karena itu, kondisi demam ini sering dikatakan sebagai gejala dari penyakit lain yang sesungguhnya, terutama yang dipicu karena infeksi bakteri.

Tubuh dapat melawan sendiri infeksinya jika suhunya naik. Itulah sebabnya, Anda tak perlu takut jika si kecil mengalami demam dan perilaku bayi atau balita tidak menunjukkan perubahan. Misalnya dia tetap aktif bermain serta mau makan dan minum. Cukup diberi banyak minum dan istirahat, biasanya demam dapat reda dengan sendirinya dalam satu sampai dua hari dan tak selalu butuh pengobatan. Anda perlu khawatir jika anak yang demam tampak sakit.

Misalnya cenderung lemas, muntah-muntah, dehidrasi, tidak mau makan, dan sangat rewel. Anda sebaiknya lebih waspada lagi jika anak mengalami gejala-gejala tertentu yang mencurigakan dan mengeluhkan sakit pada bagian tertentu tubuhnya. Itu sebabnya demam pada anak tidak bisa boleh dianggap sebagai suatu masalah yang sepele. Berbagai penyakit, baik yang ringan maupun yang berbahaya, ditandai dengan gejala naiknya suhu tubuh di atas normal ini.

Apalagi yang kerap terjadi mengiringi demam adalah kejang. Hal ini sungguh berbahaya karena demam tinggi yang berakibat kejang lebih dari 15 menit bisa berujung kerusakan otak permanen pada anak. Menurut Yanti, panggilan akrab Mulya, hal itu karena minimnya oksigen yang masuk ke dalam otak. “Yang tadinya anak sudah pintar, perkembangannya menjadi mundur sehingga membuat anak malah jadi lemot,” sebutnya. Kejang demam pada anak balita, biasanya diawali dengan faktor pencetusnya, seperti demam terlebih dahulu.

Dia menyebutkan, salah satu faktor risiko seorang anak terkena demam kejang adalah riwayat kejang dalam keluarganya. Namun, sekalipun seorang anak tidak mempunyai riwayat kejang demam, dia tetap mempunyai risiko terkena penyakit ini walaupun persentasenya kecil. Yanti memberikan cara penanganan praktis saat anak mengalami demam, terutama untuk anak dengan riwayat kejang demam.

Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan cara fisik. Fisik yang dimaksud adalah dengan melakukan kompres air hangat karena berhubungan dengan penguapan. Orangtua dulu sering melakukan kompres dengan air dingin, bahkan alkohol. Panas memang turun dengan cepat. Namun, input baliknya, otak akan menganggap suhu di luar tubuh dingin sehingga kemudian malah memerintahkan tubuh memproduksi panas lebih banyak.

Sebaliknya, kompres air hangat membantu penguapan dan keluarnya panas dari dalam tubuh. “Yang dikompres adalah daerah ketiak dan lipatan paha. Kerjakan selama 30 menit, biasanya akan membantu menurunkan panas,” sebutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: