Sejarah Kebayoran Baru (1950)

Foto Maret 1950 terlihat buldozer dan pekerja tengah membangun proyek kota satelit Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pembangunan dijadwalkan akhir 1948 saat Jakarta dikuasai Belanda yang datang membonceng pasukan sekutu. Kebayoran Baru yang kini diperkirakan berpenduduk lebih dari sejuta jiwa, ketika itu masih di penuhi pepohonan, belukar, dan rawa-rawa. Setahun kemudian (1949) lebih sepertiga wilayahnya sudah dibebaskan dan mulai dibangun jalan raya penghubung antara Kebayoran dengan Jakarta.

Pembangunan Kebayoran Baru dilaksanakan perusahaan Belanda Central Stichting Wederopbouw yang dikenal dengan sebutan CSW. Perusahaan ini didirikan Agustus 1948. Kantor CSW letaknya beberapa ratus meter sebelum Terminal Blok M dan berhadapan dengan kantor Kejaksaan Agung. Sampai kini kondektur bus masih menyebut nama demikian.

Pengarang FDJ Pangemanan dalam Tjerita Si Tjonat menggambarkan pada abad ke-19 dari Batavia (Jakarta Kota) ke Kebayoran, bila berangkat sore baru tiba malam hari. Tentu saja kala itu belum ada kendaraan hingga orang harus berjalan kaki. Kebayoran ketika itu merupakan tempat pelarian para penjahat dari Batavia.

Dibangunannya Kebayoran Baru merupakan upaya awal bagi Kota Jakarta untuk menyediakan fasilitas perkotaan terencana. Pada 1949, sepertiga wilayah yang sebagian besar milik warga Betawi sudah dibebaskan. Dan pada 1950, seperti terlihat di foto, mulai dibangun jalan raya yang menghubungkan Kebayoran Baru – Jakarta. Dengan hengkangnya Belanda dari bumi Indonesia, maka pembangunan kota satelit Kebayoran Baru ditangani Kementerian Pekerjaan Umum.

Pada akhir 1950, sekitar dua pertiga wilayah Kebayoran Baru sudah dibuka dan tiga ribu rumah sudah terbangun, 1.300 m2 jalan sudah siap dan 30 ribu saluran air sudah terpasang. Ketika itu baru delapan sekolah yang dibangun. Setahun kemudian (1951) sebanyak 3.365 rumah dibangun, selain rencana pembangunan vila-vila seluas 110 hektare, juga dibangun pertokoan dan gedung sekolah.

Pemekaran wilayah Kebayoran telah menghasilkan pusat pertumbuhan di selatan kota. Ketika Kebayoran Baru hendak dibangun (1948), penduduk Jakarta hanya 823 ribu jiwa. Pada 1960-an jalan-jalan ke Kebayoran Baru nikmat sekali. Tidak ada kemacetan, rumah dan vila-vila mungil merupakan pemandangan yang indah.

Sumber : alwishahab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s